“Walaupun kita deflasi 0,03 persen, tapi masih jauh dari 1,12 persen (deflasi tahun lalu). Selisih itulah yang menjadi beban dan membuat inflasi y-on-y kita melonjak,”
Konawe, PERSADA KITA.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Konawe mengeluarkan peringatan dini terkait lonjakan inflasi tahunan. Meskipun secara bulanan (m-to-m) mencatat deflasi sebesar 0,03 persen pada Oktober 2026, namun secara tahun ke tahun (y-on-y) inflasi Konawe melesat tajam hingga menyentuh angka 5,44 persen.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Angka tersebut menjadikan Kabupaten Konawe sebagai wilayah dengan inflasi tahunan tertinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), mengalahkan Kabupaten Kolaka (5,03 persen), Kota Baubau (4,84 persen), dan Kota Kendari (4,47 persen). Sementara inflasi Sultra secara umum berada di angka 4,74 persen dan nasional 3,23 persen.

Kepala BPS Kabupaten Konawe, Ade Ida Mane, SST., M.Si dalam rilis resminya, di Kantor BPS Konawe, Senin (2/11/2026), memaparkan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) Konawe pada Oktober 2026 berada di angka 114,51. Deflasi bulanan sebesar 0,03 persen ini dipicu oleh turunnya harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil deflasi 0,14 persen.

Komoditas utama penyumbang deflasi bulanan antara lain ikan layang/ikan benggol (-0,252), ikan cakalang/sisik (-0,148), ikan mujair (-0,121), kangkung (-0,114), hingga bawang merah (-0,028). Namun, sejumlah komoditas strategis justru mengalami inflasi dan menjadi penyumbang utama, seperti tomat (0,178), kacang panjang (0,113), kue basah (0,061), hingga beras (0,022).

Lonjakan inflasi tahunan ke angka 5,44 persen bukan tanpa sebab. BPS menjelaskan fenomena low base effect (basis rendah) akibat terjadinya deflasi dalam yang berkepanjangan pada tahun 2025 lalu. Tercatat pada Agustus 2025 terjadi deflasi 1,4 persen, September 2025 sebesar 1,18 persen, dan Oktober 2025 sebesar 1,12 persen.

“Walaupun kita deflasi 0,03 persen, tapi masih jauh dari 1,12 persen (deflasi tahun lalu). Selisih itulah yang menjadi beban dan membuat inflasi y-on-y kita melonjak,” tegas Kepala BPS Konawe dalam pemaparannya.
Akibatnya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi biang kerok utama inflasi tahunan dengan andil mencapai 3,31 persen. Beras menjadi komoditas dengan andil inflasi tertinggi (0,714), disusul kangkung (0,346), kue basah (0,277), pelumas/oli mesin (0,269), dan kacang panjang (0,248).
Untuk menekan laju inflasi tahunan agar berada di bawah batas aman 3,5 persen pada penutupan tahun, BPS menegaskan bahwa Konawe wajib mengalami deflasi berturut-turut pada November dan Desember 2026. “Ini perjalanan yang keras. Kita harus bisa menahan laju harga,” ujarnya.
Menghadapi momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru), Pemerintah Daerah diharapkan untuk menerapkan strategi pengendalian inflasi 4K (Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, Ketersediaan Pasokan, dan Komunikasi Efektif).
Namun, ancaman nyata datang dari sektor hulu. Salah satu perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Konawe melaporkan adanya kendala serius terkait cuaca kering yang melanda beberapa area pertanian. Ketiadaan sumber air dan minimnya fasilitas pompanisasi membuat rencana penanaman komoditas hortikultura seperti cabai, kangkung, dan kacang panjang untuk kebutuhan Nataru terancam gagal.
“Beberapa area persawahan ada pasokan air pembuangan tetapi terkendala pompa. Jika tidak ada sumber air sama sekali, dibutuhkan sumur bor dalam. Ini yang sedang kita data dan cari solusinya,” pungkasnya. (JM)
















