Pengusaha Nasional Harus Kuasai Pasar Sendiri
Jakarta, PERSADA KITA.ID — Di tengah derasnya arus produk impor dan persaingan global yang kian ketat, sosok Bambang Soesatyo (Bamsoet) hadir membawa pesan tegas. Anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI sekaligus Dewan Kehormatan Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) ini menyerukan agar pengusaha nasional tidak lagi hanya menjadi penonton di negeri sendiri.
“Indonesia harus kuat di rumahnya sendiri,” ujar Bamsoet dengan lantang saat menghadiri Rakernas III HIPPI Tahun 2026 di Jakarta, Senin (12/10/26).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pesan itu bukan tanpa alasan. Bamsoet menekankan bahwa nilai tambah, lapangan kerja, dan kesejahteraan dari besarnya pasar Indonesia harus dinikmati oleh masyarakat sendiri, bukan negara lain. Ia pun mendorong pengusaha nasional untuk naik kelas, tidak sekadar berdagang, tetapi juga menjadi produsen, inovator, dan pemilik teknologi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai impor Indonesia sepanjang 2025 mencapai ratusan miliar dolar AS. Angka ini menjadi cermin besarnya ketergantungan pada barang konsumsi, bahan baku, hingga barang modal dari luar negeri. Bamsoet menilai kondisi ini sebagai pekerjaan rumah besar yang harus dijawab bersama.
“Kalau kebutuhan masyarakat terus dipenuhi produk dari luar, sementara kemampuan produksi nasional tertinggal, maka besarnya pasar Indonesia justru akan lebih banyak menciptakan keuntungan bagi negara lain,” tegasnya.

Ia pun memaparkan bahwa tantangan pengusaha saat ini jauh lebih kompleks. Persaingan tidak lagi hanya soal harga dan modal, tetapi juga penguasaan teknologi, efisiensi produksi, kualitas SDM, hingga akses pembiayaan dan jaringan distribusi.
Acara yang juga dihadiri Wakil Menko Perekonomian Drajat Wibowo, sejumlah anggota DPR RI, Ketua Umum KADIN Indonesia Anindya Bakrie, dan Ketua Umum HIPPI Erik Hidayat ini menjadi momentum penting. Bamsoet menekankan bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi tidak cukup diukur dari pertumbuhan angka atau besarnya investasi.
“Kita juga harus melihat berapa banyak lapangan kerja berkualitas yang tercipta, berapa banyak pengusaha lokal yang berkembang, dan apakah kesenjangan antar daerah semakin berkurang,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Bamsoet juga menyoroti peran strategis HIPPI. Menurutnya, HIPPI harus hadir sebagai rumah perjuangan yang membantu pengusaha kecil dan menengah keluar dari keterbatasan modal, teknologi, sertifikasi, hingga akses ke rantai pasok perusahaan besar.
“Pengusaha daerah juga harus mendapatkan ruang yang lebih besar. Jangan sampai potensi ekonomi di daerah hanya menjadi sumber bahan mentah, sementara keuntungan terbesar justru dinikmati pihak lain,” pungkas Bamsoet. (*)














