Badan Pusat Statistik Kabupaten Konawe merilis fakta mencengangkan: meskipun inflasi year on year (y-on-y) tercatat 1,81%, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga justru melejit hingga 8,70% – tertinggi di antara seluruh kelompok pengeluaran.
Konawe, PERSADA KITA.ID – Ada yang berbeda dari rilis BPS Kabupaten Konawe kali ini. Bukan hanya soal angka inflasi, melainkan perubahan struktur tekanan harga yang mulai merambah ke sektor-sektor non-pangan.
Dalam rilis resmi yang disampaikan oleh Kepala BPS Konawe, Ade Ida Mane, S.St, M.Si, yang diwakili Hasriati, S.Pi (Kordinator Statistik Distribusi BPS Konawe), di Unaaha, Rabu (1/4/2026) disebutkan bahwa pada Maret 2026:
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Inflasi y-on-y: 1,81% dengan IHK 111,14.
Inflasi m-to-m (Maret vs Februari 2026): 1,14%
Inflasi y-to-d (Januari-Maret 2026): 1,36%

Namun yang paling mencuri perhatian adalah lonjakan kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 8,70% secara tahunan.
Secara berurutan, penyumbang inflasi lainnya:
Perawatan pribadi & jasa lainnya: 4,37%
Pendidikan: 1,42%
Restoran: 1,34%
Makanan, minuman, tembakau: 1,04%
Perlengkapan rumah tangga: 0,90%
Informasi & jasa keuangan: 0,46%
Transportasi: 0,44%
Pakaian & alas kaki: 0,28%
Sementara itu, kelompok kesehatan serta rekreasi, olahraga, dan budaya tidak mengalami perubahan indeks.

Hasriati, S.Pi menegaskan bahwa data ini dihimpun dari berbagai titik pantau harga di seluruh wilayah Konawe.
“Kenaikan kelompok perumahan tidak bisa diabaikan. Ini menyangkut listrik, air, hingga bahan bakar rumah tangga yang menjadi kebutuhan mutlak setiap warga,” ujarnya di sela rilis.
Jika dibandingkan bulan sebelumnya (Februari 2026), tekanan inflasi month-to-month sebesar 1,14% menunjukkan bahwa harga-harga sedang bergerak cepat naik dalam rentak satu bulan. Hal ini mengindikasikan adanya gangguan distribusi atau kebijakan harga di level produsen.

Kepala BPS Konawe, Ade Ida Mane, dalam arahannya menekankan:
“Rilis IHK ini bukan sekadar laporan statistik. Kami berharap Pemerintah Daerah Konawe, terutama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), menjadikan data ini sebagai rujukan utama untuk menyusun kebijakan intervensi harga. Jangan sampai daya beli masyarakat tergerus tanpa ada langkah antisipasi.”
Acara rilis yang juga dihadiri oleh Setda Konawe Dr. Ferdinand, SP., MH., Kepala BAPPEDA, Kabag Ekonomi, serta sejumlah OPD berlangsung dalam suasana diskusi teknis yang serius. Beberapa perwakilan OPD mengaku baru menyadari bahwa beban biaya perumahan dan listrik kini menjadi pemicu inflasi utama di Konawe. JM















