“Sejak adanya imbauan dari Dinas Kesehatan Konawe, kami memastikan kesiapan pelayanan untuk mengantisipasi kemungkinan meningkatnya kasus ISPA akibat kabut asap,”
Konawe, PERSADA KITA.ID – Puskesmas Anggaberi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi lonjakan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat kabut asap yang terjadi sejak sepekan terakhir.
Kepala Puskesmas Anggaberi, Sulhana, SKM, mengatakan pihaknya bergerak cepat menindaklanjuti instruksi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Konawe agar seluruh fasilitas pelayanan kesehatan meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak penurunan kualitas udara.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Langkah tersebut mencakup kesiapan tenaga medis, ketersediaan obat-obatan, tabung oksigen beserta perlengkapannya, hingga pemantauan kualitas udara secara berkala.
“Sejak adanya imbauan dari Dinas Kesehatan Konawe, kami memastikan kesiapan pelayanan untuk mengantisipasi kemungkinan meningkatnya kasus ISPA akibat kabut asap,” demikian penjelasan Sulhana.

Selain menyiapkan tenaga kesehatan dan logistik medis, Puskesmas Anggaberi juga melakukan pengukuran kualitas udara menggunakan alat khusus particle counter. Pemantauan dilakukan secara berkala untuk mengetahui kondisi udara dan perubahan konsentrasi partikel yang berpotensi berdampak terhadap kesehatan masyarakat.

Hasil pengukuran menjadi salah satu bahan pemantauan kondisi lingkungan. Namun, angka yang ditampilkan alat perlu dibaca sesuai jenis partikel dan satuan pengukurannya agar dapat ditafsirkan secara tepat.
Terkait itu, Dalam instruksinya kepada jajaran pelayanan kesehatan, Kepala Dinas Kesehatan Konawe, Yones SE MM meminta seluruh fasilitas pelayanan kesehatan memastikan ketersediaan logistik medis dan nonmedis dalam jumlah memadai.
Beberapa kebutuhan yang menjadi perhatian meliputi tabung oksigen beserta cadangannya, regulator yang berfungsi baik, selang atau kanul oksigen, serta masker.
Dinas Kesehatan juga menekankan pentingnya ketersediaan obat-obatan untuk penanganan gangguan pernapasan sesuai indikasi medis, termasuk obat asma, antiradang, antialergi, mukolitik, dan antibiotik apabila diperlukan berdasarkan pemeriksaan tenaga kesehatan.
Penggunaan selang atau kanul oksigen juga harus memperhatikan pencegahan infeksi. Setiap pasien wajib menggunakan selang atau kanul tersendiri sesuai prosedur pelayanan, bukan dipakai bergantian tanpa penggantian yang aman.
Tak hanya kesiapan internal, koordinasi dengan lintas sektor turut ditekankan untuk memantau perkembangan kondisi udara serta dampak kabut asap terhadap masyarakat.
Kabut asap dan paparan partikel di udara dapat memicu iritasi saluran pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan.

Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika asap pekat, menggunakan masker yang sesuai saat harus beraktivitas di luar, serta menutup pintu dan jendela ketika kondisi udara di luar memburuk.
Warga yang mengalami batuk berkepanjangan, sesak napas, mengi, atau keluhan pernapasan yang semakin berat perlu segera mencari pertolongan medis. Jika terjadi sesak napas berat, pertolongan darurat harus segera diberikan.
Kesiapsiagaan Puskesmas Anggaberi menjadi bagian penting dalam menjaga pelayanan kesehatan tetap berjalan di tengah kondisi udara yang perlu diwaspadai. Pemantauan kualitas udara, kesiapan petugas, serta ketersediaan obat dan oksigen diharapkan membantu masyarakat memperoleh penanganan secara cepat apabila mengalami gangguan kesehatan akibat kabut asap. JM















