“Saya kasihan melihat warga yang butuhkan air bersih ini karena kemarau yang lahannya gagal panen,”
Konawe, PERSADA KITA.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Konawe bergerak cepat menangani krisis air bersih yang melanda sejumlah wilayah di tengah puncak musim kemarau. Meski telah sebulan terakhir mendistribusikan air bersih ke lima kecamatan, operasional di lapangan nyaris lumpuh akibat keterbatasan armada dan kerusakan teknis kendaraan.

Kepala BPBD Konawe, Herianto Pagala, S.Sos, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengerahkan seluruh sumber daya yang ada untuk memenuhi kebutuhan dasar warga. “Kami sudah satu bulan jalan. Tapi kendala kita sangat banyak, terutama kendaraan operasional yang rusak dan tidak ada rem,” ujarnya tegas, saat ditemui di sela-sela operasional distribusi di Kantornya di Unaaha, Jumat (16/10/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Operasi kemanusiaan ini telah menjangkau lima kecamatan, meliputi Kecamatan Soropia (Desa Bajo Indah dan Leppe), Kapoiala (Desa Muara Sampara), Amonggedo (5 desa), Meluhu (5 desa), serta wilayah Kapoiala dan Mataiwoi di Kecamatan Tongauna.

Sebelum air disalurkan, tim BPBD melakukan asesmen dan validasi ketat ke titik-titik sumber air, seperti sumur warga, untuk memastikan tingkat urgensi. Mekanisme distribusi dilakukan dengan menyetor air ke tandon desa berkapasitas 5.500 liter. Selanjutnya, aparat desa membatasi pembagian sekitar 2 hingga 3 galon per kepala keluarga, yang diprioritaskan hanya untuk kebutuhan air memasak, bukan mandi.
“Titik yang paling membutuhkan saat ini adalah Desa Muara Sampara dan warga transmigrasi di Meluhu. Di sana warga berbondong-bondong datang mengambil air,” jelas Herianto.

Keterbatasan armada menjadi momok utama dalam operasi ini. BPBD Konawe hanya mengandalkan tiga unit kendaraan internal: mobil truk serbaguna (kapasitas 4 tandon/4.800 liter), Ford Ranger, dan L300 (kapasitas 1.200 liter). Satgas Penanganan Darurat Bencana Kekeringan dari BPBK Sultra dari Kementerian PU juga memberikan dukungan satu unit mobil tangki yang dioperasikan khusus di wilayah Kecamatan Meluhu.
Namun, kondisi kendaraan tersebut sangat memprihatinkan. “Mobil truk serbaguna kita mengalami kerusakan mesin dan rem tidak berfungsi. Petugas kami harus memiliki nyali besar untuk membawa kendaraan tanpa rem. Belum lagi biaya bahan bakar yang sangat mahal,” beber Herianto.
Untuk mendapatkan pasokan air, BPBD terpaksa membeli dari depo terdekat. Wilayah Kecamatan Kapoiala mengambil air dari Desa Besu, sedangkan Soropia dipasok dari Kelurahan Lapulu, Kota Kendari. Pengiriman hanya mampu dilakukan 1 hingga 2 trip per hari.

Beban kerja petugas pun sangat berat. Mereka kerap pulang hingga pukul 21.00 WITA, bahkan harus bermalam selama dua hari di lokasi yang jauh dengan sistem rolling (pergantian). “Harapan saya, kemarau ini cepat berakhir. Saya kasihan melihat warga yang butuhkan air bersih ini karena kemarau yang lahannya gagal panen,” imbuh Herianto.
Ke depan, BPBD Konawe berharap Pemerintah Daerah (Pemda) untuk mengalokasikan pengadaan mobil tangki khusus. Kendaraan ini dinilai sangat krusial karena dapat difungsikan ganda, baik saat musim kemarau untuk air bersih maupun saat musim hujan terutama pada saat banjir.
“Saat ini kendaraan kami semua bantuan dari pusat. Kami butuh mobil tangki yang bisa dipakai kapan saja. Ini sangat berguna sekali, tidak hanya untuk kemarau tapi juga saat banjir,” pungkasnya. JM















