DP2KB Kabupaten Konawe genjot percepatan penurunan stunting melalui program strategis di 28 kecamatan
Konawe, PERSADA KITA.ID – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kabupaten Konawe terus mengintensifkan upaya pencegahan stunting melalui serangkaian program strategis yang menyasar hingga ke lini lapangan. Hal ini diungkapkan langsung oleh Kepala Dinas DP2KB Konawe, Faisal Taridala, S.H., kepada awak media di kantornya, Rabu (16/9/2026).

Faisal menjelaskan bahwa pihaknya telah melaksanakan berbagai program nasional pencegahan stunting yang tersebar di 28 kecamatan. Program utama yang menjadi fondasi adalah sosialisasi Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting yang sebelumnya telah digelar bersama para pemangku kepentingan, mulai dari Ketua dan anggota DPRD, Forkopimda, Kepala OPD, pimpinan bank, instansi vertikal, camat, hingga Puskesmas se-Kabupaten Konawe.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sosialisasi ini kami lanjutkan dengan pertemuan koordinasi di seluruh Balai KB se-Kabupaten Konawe dengan agenda utama penapisan keluarga yang berisiko mengalami stunting,” ujar Faisal.

Dari hasil penapisan tersebut, diikuti sebanyak 758 kader yang akan menyasar keluarga berisiko stunting sekaligus menjadi target utama pendampingan. Faisal menegaskan bahwa hasil penapisan ini sedang ditindaklanjuti di masing-masing kecamatan oleh tim sekretariat yang kuat melalui penyusunan Surat Keputusan (SK) Orang Tua Asuh.
“Kami ingin memastikan setiap keluarga berisiko stunting memiliki pendamping yang bertanggung jawab. SK Orang Tua Asuh ini adalah bentuk komitmen nyata kami,” tegasnya.

Tak hanya di tingkat atas, DP2KB Konawe juga memperkuat kapasitas di lini lapangan. Kegiatan peningkatan kapasitas pencegahan stunting telah dilaksanakan di 29 Balai Penyuluhan KB se-Kabupaten Konawe sebanyak empat kali.
“Outputnya jelas, kami ingin meningkatkan pengetahuan dan kapasitas kader serta petugas lapangan dalam pencegahan dan penanganan stunting. Mereka juga dilatih untuk melakukan edukasi, pemantauan, dan pendampingan kepada keluarga berisiko stunting,” jelas Faisal.
Selain itu, kegiatan ini juga berhasil mengidentifikasi keluarga berisiko stunting melalui penapisan lapangan, membangun koordinasi dan sinergi antara kader, petugas pemerintah desa/kelurahan, serta menyusun rencana tindak lanjut pendampingan berkelanjutan.

Program yang tak kalah penting adalah penggerakan Kader Institusi Masyarakat Pedesaan (IMP). Kegiatan ini telah terlaksana dua kali di 29 Balai Penyuluhan KB se-Kabupaten Konawe.
“Kami melihat peran aktif dan kapasitas kader IMP dalam mendukung program Bangga Kencana dan percepatan pencegahan stunting semakin meningkat. Mereka kini tergerak untuk melakukan penyuluhan, pendampingan, dan mobilisasi masyarakat di wilayah binaannya,” papar Faisal.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa koordinasi antara kader IMP dengan penyuluh KB, Balai Penyuluhan KB, pemerintah desa/kelurahan, dan lintas sektor terkait juga semakin solid. Hal ini memungkinkan teridentifikasinya permasalahan dan kebutuhan masyarakat terkait program kependudukan, keluarga berencana, pembangunan keluarga, dan pencegahan stunting.
Selain itu, Faisal juga menekankan bahwa seluruh rangkaian kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang menjadi kewajiban pemerintah daerah, khususnya dalam bidang pengendalian penduduk dan keluarga berencana.
“Program-program ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Ini adalah bentuk nyata pelaksanaan 6 SPM, di mana kami memastikan setiap keluarga, terutama yang berisiko stunting, mendapatkan pelayanan yang layak, mulai dari edukasi, pendampingan, hingga intervensi yang tepat sasaran,” pungkasnya.
Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, kader, dan masyarakat, DP2KB Konawe optimis angka stunting di wilayahnya dapat ditekan secara signifikan dalam mencapai tujuan program strategis Konawe Bersahaja. JM
















