Pemkab Konawe jajaki kerja sama dengan Charoen Pokphand untuk program jagung dan kawasan peternakan terintegrasi guna wujudkan ketahanan pangan.
Makassar, PERSADA KITA.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Konawe mengambil langkah strategis untuk mewujudkan swasembada pangan dengan menjajaki kerja sama dengan raksasa agribisnis PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPI). Rombongan yang dipimpin langsung Bupati Konawe, H. Yusran Akbar, S.T. bersama sejumlah kepala OPD melakukan kunjungan kerja ke kantor PT Charoen Pokphand Indonesia di Kawasan Industri Makassar (KIMA), Sabtu (11/7/2026).

Kedatangan mereka diterima langsung oleh jajaran manajemen perusahaan yang dipimpin Regional Head Eastern Indonesia 1 (EI 1), Ir. Hadi Widajad, S.Pt., IPU., ASEAN Eng, bersama Baso Alim Bahri selaku General Manager Human Capital Personal General Affair untuk wilayah Indonesia Timur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam pertemuan tersebut, Bupati H Yusran Akbar memaparkan potensi besar Kabupaten Konawe yang memiliki populasi sekitar 200.000 jiwa tersebar di 28 kecamatan. Konawe merupakan salah satu dari 17 kabupaten di Sulawesi Tenggara dengan potensi pertanian terluas.
Di sektor pertanian, Konawe memiliki Bendung Wawotobi yang dibuat di era 1990-an yang mampu mengairi 18.000 hektare sawah, dan Bendungan Ameroro yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada 2024 dirancang untuk menyuplai dan meningkatkan layanan irigasi persawahan seluas 3.363 hektar.

Total potensi luas areal persawahan dan perkebunan di Kabupaten Konawe mencapai lebih dari 55.000 hektar. Wilayah ini secara konsisten memanfaatkan bentang alamnya yang subur untuk menggerakkan dua sektor komoditas unggulan tersebut.
Pemerintah daerah telah menggerakkan masyarakat untuk menanam jagung melalui program prioritas dengan membagikan bibit dan alat pertanian. Bahkan, mulai 2026 setiap desa di Konawe wajib menyiapkan 10 hektare lahan khusus jagung pakan. Saat ini, harga jagung di pasaran telah menembus di atas Rp5.000 per kilogram, dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) ditetapkan sebesar Rp5.500.
“Masyarakat Konawe umumnya senang mengonsumsi daging ayam dan telur,” ujar Bupati Yusran. Ia mengungkapkan, Konawe kerap mengalami kelangkaan telur dan daging ayam sehingga pasokan harus didatangkan dari Kolaka dan Sidrap di Sulawesi Selatan.

Salah satu poin penting yang dibahas adalah rencana pengembangan kawasan peternakan unggas untuk ayam pedaging dan ayam petelur yang terintegrasi seluas 5 hektare. Bupati Yusran mengungkapkan bahwa banyak kandang peternakan di Konawe yang terbengkalai setelah beroperasi singkat, menyebabkan kerugian investasi hingga ratusan juta rupiah.
“Banyak kandang tutup dan terbengkalai. Sudah investasi ratusan juta, beroperasi 6 bulan, malah tutup. Sementara peluang pasar telur dan ayam pedaging itu besar sekali,” ungkapnya.
Kawasan Industri Peternakan Unggas Terintegrasi merupakan salah satu program strategis prioritas dalam visi dan misi Bupati Konawe, Yusran Akbar dan Wakil Bupati Syamsul Ibrahim yang tertuang pada Visi “Konawe Bersahaja”, guna mendorong hilirisasi sektor agribisnis dan memantapkan posisi daerah sebagai lumbung ternak utama di Sulawesi Tenggara.
Melalui kawasan terintegrasi ini, pemerintah daerah berencana menyediakan fasilitas pembuangan sampah, jalan, dan air bersih, termasuk memudahkan perizinan bagi warga yang ingin membuat kandang, memusatkan edukasi dan pelatihan bagi peternak, serta menjadi wahana kunjungan dari Kementerian, lembaga universitas hingga peternak atau perusahaan mitra.
“Kami pemerintah daerah sebagai fasilitatornya,” tegas Bupati Yusran.
Bupati Yusran juga menyoroti program strategis nasional Makan Bergizi Gratis yang meningkatkan konsumsi telur dan daging ayam secara signifikan. “Ini akhirnya membuat supply dan konsumsi kita besar,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa tugas pemerintah daerah adalah menjaga stabilitas pasokan agar tidak terjadi inflasi akibat kelangkaan bahan baku. “Tugas saya sebagai kepala daerah setiap hari monitoringnya. Senin sampai Minggu, tolong jangan sampai bahan bakunya kurang. Kalau kurang, cenderung jadi inflasi,” jelasnya.

Sementara itu, General Manager Human Capital Personal General Affair PT Charoen Pokphand Indonesia wilayah Indonesia Timur, Baso Alim Bahri, menyambut hangat kedatangan rombongan Pemkab Konawe.
“Atas nama keluarga besar PT Charoen Pokphand Indonesia, kami mengucapkan selamat datang kepada Bupati Kabupaten Konawe, H. Yusran Akbar, S.T., beserta jajaran. Semoga kunjungan ini menjadi momentum yang baik untuk mempererat silaturahmi, membangun komunikasi yang lebih erat, serta membuka peluang kerja sama yang bermanfaat dalam sektor perunggasan, ketahanan pangan, dan pembangunan daerah Kabupaten Konawe,” ujarnya.
Dalam presentasinya, manajemen PT Charoen Pokphand memaparkan kapasitas produksi dan serapan jagung yang besar. Pabrik Makassar memiliki kapasitas produksi pakan 450.000 ton per tahun atau 40.000 ton per bulan dengan kemampuan menerima jagung 2.200 ton per hari.
Pabrik terbaru di Maros yang mulai berproduksi pada 2025 memiliki kapasitas 1,5 kali lebih besar dari Makassar, yaitu 50.000 ton per bulan atau 600.000 ton per tahun dengan kemampuan menerima jagung 2.000 ton per hari.
“Dengan dua pabrik ini, kami dapat menerima jagung 4.200 ton per harinya,” jelas perwakilan manajemen.
PT Charoen Pokphand Indonesia telah beroperasi lebih dari setengah abad di Indonesia, dengan pabrik pertama berdiri di Jakarta (Ancol) sejak 1972. Perusahaan menerapkan moto “Menjaga kualitas menjadi tradisi kami” yang mencakup kualitas sumber daya manusia, produk, dan layanan.
Turut hadir dalam pertemuan tersebut sejumlah manajemen PT Charoen Pokphand Indonesia, yakni Hidayat selaku Regional Head untuk Indonesia 1, Sunyanda selaku General Manager Produksi untuk wilayah Indonesia Timur (Makassar, Gorontalo, Maros, dan Bima), Sofyan Haris selaku General Manager Technical Support dan Network Operation seluruh Indonesia, Andi Armi selaku Manajer Produksi pabrik Makassar, Ikhlas selaku Manajemen Pemasaran, dan Riza selaku Technical Support Sales. JM

















