Kawasan Inolobunggadue Central Park (ICP) Konawe menjelma jadi “Malioboro” baru, magnet ekonomi UMKM dengan 100 lapak dan omzet ratusan juta per malam.
Konawe, PERSADA KITA.ID – Malam di Kawasan Inolobunggadue Central Park (ICP) Konawe, Sulawesi Tenggara, tak lagi sekadar gelap dan sunyi. Sejak beberapa tahun terakhir, kawasan yang kini dijuluki “Malioboro-nya” Konawe ini berubah menjadi lautan cahaya dan manusia. Sabtu (24/10/2026) malam, suasana semakin semarak. Lebih dari 100 lapak Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) berjajar rapi di bawah tenda-tenda biru dan merah, menyajikan aneka kuliner dan minuman yang menggoda selera.

Dari kejauhan, kepulan asap dari arang bakaran dan wangi bumbu rempah langsung menyambut siapa saja yang datang. Area ini bukan lagi sekadar tempat jualan, melainkan telah bertransformasi menjadi ruang publik yang hidup. Keluarga-keluarga tampak duduk lesehan di atas tikar, menikmati hidangan, sementara kaum muda bersantai di kursi-kursi plastik hijau, bercengkerama hingga larut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Omzet Ratusan Juta dan Kisah Para Pelaku UMKM
Di balik hingar-bingar itu, denyut ekonomi berdetak kencang. Berdasarkan pantauan di lokasi, perputaran uang di kawasan ini diprediksi mencapai ratusan juta rupiah setiap malamnya, terutama pada akhir pekan. Salah satu magnetnya adalah lapak Ayam Bakar Deisya milik Asmina.
Asmina, seorang perempuan ramah berusia sekitar 40 tahun, adalah pelopor ayam geprek di kawasan tersebut. “Saya yang pertama jualan ayam geprek di sini, waktu itu belum seramai sekarang,” ujarnya sembari membalik ayam di atas bara api. Usahanya yang telah berjalan empat tahun itu kini menuai hasil manis. Pada malam Minggu, ia bisa menjual sekitar 300 porsi dengan pendapatan menembus Rp6 juta. “Alhamdulillah, malam biasa juga enggak kurang dari situ,” tambahnya.
Menu andalannya, seperti ayam geprek, ayam bakar, ayam goreng serundeng, dan hati ayam ungkep, selalu habis diserbu pembeli. Ia tinggal di Desa Asao, Kecamatan Tongauna sejauh 5 km dari lokasi, dan mengaku bersyukur atas ramainya kawasan wisata kuliner ini.

Tak jauh dari situ, Kedai Ayu juga tak kalah sibuk. Mbak Ayu, sapaan akrabnya, menawarkan spesialisasi bakso bakar yang unik. “Ada bakso bakar halus, urat, dan keju. Tapi malam ini keju habis, tinggal yang polos,” tuturnya sambil mengolesi kuas berisi bumbu ke atas bakso yang ditusuk. Satu biji bakso bakar dihargai Rp5.000. Selain bakso bakar, kedai ini juga menjual saraba, pisang goreng, dan pop ice, serta menerima pesanan.

Rekreasi Keluarga dan Ruang Kreatif Kaum Muda
Kehadiran ICP Konawe bukan sekadar angin segar bagi pelaku UMKM, tetapi juga bagi masyarakat. Kawasan ini kini menjadi alternatif destinasi wisata malam yang murah meriah. Anak-anak terlihat berlarian, sementara para orang tua menikmati makanan di bawah lampu penerangan jalan yang artistik.

Bagi kaum muda, “Malioboro Konawe” ini adalah tempat berkumpul yang ideal. Sambil menikmati bakso bakar atau secangkir minuman hangat, mereka berbincang dan bercanda, melepas penat setelah sepekan beraktivitas. Suasana akrab dan kekeluargaan sangat terasa, mencerminkan potensi besar ekonomi kerakyatan yang tumbuh dari bawah.
Pemerintah daerah diharapkan terus mendukung dan memfasilitasi perkembangan kawasan ini. Dengan pengelolaan yang baik, Inolobunggadue Central Park tidak hanya menjadi kebanggaan warga Konawe, tetapi juga mampu menjadi ikon wisata kuliner yang mendunia, sekaligus mengangkat derajat para pelaku UMKM lokal.
Laporan : Jems/Persada Kita.id
















