Sebagai simbol kesucian niat dan kebersihan jiwa dalam memimpin
Konawe, PERSADA KITA.ID — Malam resepsi kenegaraan peringatan HUT ke-81 RI di Kabupaten Konawe semakin khidmat dengan penampilan busana heroik dari pasangan Bupati dan Ketua Tim Penggerak PKK. Bupati H. Yusran Akbar, S.T. tampil gagah berkostum Pangeran Diponegoro, sementara sang istri, Hj. Hania, S.Pd., M.Pd., Gr., mengenakan kostum pejuang wanita yang merepresentasikan peran perempuan di garis depan pertempuran.
Bupati Yusran menampilkan detail kostum Pangeran Diponegoro yang sarat makna sejarah. Dengan bangga, Bupati Konawe, H. Yusran Akbar, S.T., melangkah dalam balutan kostum Pangeran Diponegoro yang sarat makna.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia mengenakan jubah berwarna putih bersih sebagai simbol kesucian niat dan kebersihan jiwa dalam memimpin, serta surban putih yang melilit di kepalanya dengan rapi yang menggambarkan kewibawaan dan keteguhan seorang pemimpin yang mengayomi. Di pinggangnya, terselip sebilah keris pusaka, yang bukan sekadar aksesori, melainkan simbol ketegasan dan kewaspadaan dalam menjaga kehormatan serta kedaulatan negara.

Atribut paling ikonik yang melengkapi penampilannya adalah keris pusaka yang diselipkan di bagian pinggang depan. Dalam tradisi Jawa, posisi keris di bagian depan memiliki makna khusus, yaitu menandakan bahwa pemakainya sedang dalam kondisi perang dan siap menghadapi lawan. Keris yang dikenakan Bupati Yusran terinspirasi dari Kyai Bondoyudo, pusaka yang konon dibawa Pangeran Diponegoro dalam perlawanan terhadap Belanda.

Kostum ini sengaja dipilih Bupati Yusran sebagai simbol perlawanan dan nasionalisme, mencerminkan karakter Pangeran Diponegoro sebagai pemimpin yang tegas, berwibawa, dan politis. “Ini idenya terinspirasi dari Pangeran Diponegoro yang berjuang menurut sejarah tahun 1825 sampai 1830. Ini semangat karena temanya perjuangan,” ujarnya.
Tak kalah memukau, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Konawe, Hj. Hania, S.Pd., M.Pd. Gr., turut mengenakan kostum pejuang wanita yang gagah. Busana yang dikenakannya merefleksikan semangat juang para perempuan tangguh di garis depan pertempuran, melambangkan peran krusial wanita dalam merebut dan mengisi kemerdekaan menjadi sebuah pengingat bahwa perjuangan bangsa tak pernah lepas dari tangan-tangan perempuan yang kuat dan berani.
Penampilan Hj. Hania turut melengkapi semangat kepahlawanan yang diusung pasangan suami-istri tersebut. Sebagai Ketua TP PKK Kabupaten Konawe yang juga dikenal aktif mempromosikan budaya lokal melalui tenun Tabere Siwole khas Tolaki, Hj. Hania menunjukkan bahwa nilai-nilai perjuangan dapat dihadirkan dalam berbagai bentuk, termasuk melalui busana yang dikenakan. JM















