Demo Pedagang vs Pengelola: Konflik Pemindahan di Pasar Wawotobi Memanas

- Penulis

Senin, 11 Agustus 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pedagang Pasar Wawotobi berorasi dalam aksi damai di halaman Kantor Bupati Konawe, menolak pemindahan ke area belakang yang dinilai akan mematikan mata pencaharian mereka, Senin (12/8/2025).

Pedagang Pasar Wawotobi berorasi dalam aksi damai di halaman Kantor Bupati Konawe, menolak pemindahan ke area belakang yang dinilai akan mematikan mata pencaharian mereka, Senin (12/8/2025).

“Kami percaya Pak Bupati Yusran Akbar. Beliau dulu juga rakyat biasa. Kami harap beliau bisa jadi penengah yang adil,”

PERSADA KITA.ID | KONAWE – Puluhan pedagang pasar Wawotobi di Kabupaten Konawe menggelar aksi unjuk rasa damai di halaman Kantor Bupati Konawe, Senin (12/8/2025), menolak rencana pemindahan lokasi berdagang mereka dari area depan ke bagian belakang pasar. Aksi ini menjadi simbol kegelisahan para pelaku ekonomi mikro yang merasa keberadaan mereka terpinggirkan oleh kebijakan pengelolaan pasar yang dianggap tidak berpihak.

Pasar Wawotobi dikelola oleh PT Buah Poleang melalui skema kontrak bagi hasil 75:25 dengan Pemerintah Kabupaten Konawe. Dalam kerja sama ini, perusahaan berwenang mengatur penempatan pedagang, menarik retribusi, sementara Pemkab menerima 25% dari pendapatan tersebut. Namun, di balik skema bisnis itu, muncul konflik yang langsung berdampak pada mata pencaharian rakyat kecil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Puluhan pedagang pasar menggelar aksi unjuk rasa, menuntut keadilan dan penolakan terhadap kebijakan sepihak PT Buah Poleang.

Para pedagang menilai bahwa pemindahan ke area belakang pasar akan membuat mereka kehilangan akses ke pembeli utama. Lokasi depan pasar selama ini menjadi titik strategis yang ramai dikunjungi warga, sementara area belakang minim akses dan minim pengunjung.

“Kami bukan minta gedung mewah, Pak. Kami hanya minta tempat yang bisa kami cari nafkah. Kalau di depan saja pembeli sudah sepi, apalagi kalau dipindahkan ke belakang? Rezeki kami mati di situ!” ujar seorang pedagang sayur yang telah berjualan selama 15 tahun.

Aksi yang berlangsung tertib ini juga diwarnai sorotan tajam terhadap transparansi pengelolaan pasar. Banyak pedagang mencurigai adanya pungutan liar (pungli) oleh oknum dari pihak pengelola, meski retribusi resmi telah ditetapkan.

Baca Juga:  Bupati dan Wakil Bupati Konawe Berqurban Sapi di Anggaberi, Berbagi Kebahagiaan kepada Warga

Selain menolak pemindahan, para pedagang mendesak Pemkab Konawe segera memfasilitasi pertemuan langsung dengan PT Buah Poleang untuk membahas solusi yang adil. Mereka menolak keputusan sepihak dan menuntut hak partisipasi dalam pengambilan kebijakan yang menyangkut nasib ekonomi mereka.

Kepala Bapenda Konawe, Cici Ita Ristianty, berdialog langsung dengan perwakilan pedagang usai aksi, menjanjikan fasilitasi pertemuan dengan pengelola pasar

Menanggapi aksi tersebut, Kepala Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Konawe, Cici Ita Ristianty, yang mewakili Bupati H. Yusran Akbar, ST., menyatakan komitmen Pemkab untuk menindaklanjuti aspirasi pedagang.

“Kami mendengar jeritan hati para pedagang. Besok kami akan fasilitasi pertemuan antara pedagang dan PT Buah Poleang. Selama proses belum selesai, tidak ada pemindahan paksa. Kami pastikan pedagang dilindungi,” tegas Cici dengan nada tegas.

Ia juga membuka pintu bagi pedagang untuk melaporkan dugaan pungli.

“Kalau ada oknum yang melakukan pungutan tidak sah, laporkan. Kami akan proses secara hukum. Pemkab tidak akan melindungi siapa pun yang merugikan rakyat,” tambahnya.

Respons cepat dari Pemkab ini disambut positif oleh para pedagang. Mereka mengaku mulai percaya bahwa pemerintah daerah saat ini berpihak pada rakyat kecil.

“Kami percaya Pak Bupati Yusran Akbar. Beliau dulu juga rakyat biasa. Kami harap beliau bisa jadi penengah yang adil,” ucap seoraang pedagang ikan asal Wawotobi.

Namun, di tengah harapan, masih ada kekhawatiran bahwa keputusan akhir akan lebih menguntungkan pihak pengelola swasta. Pasar Wawotobi, yang seharusnya menjadi pusat ekonomi rakyat, kini cenderung menjadi medan tarik-menarik antara kepentingan bisnis dan hak hidup para pedagang.

Bagi mereka, ini bukan sekadar soal lokasi berjualan — ini soal kelangsungan hidup. JM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

SPPG Wonggeduku Bantah Isu Tikus, Sebut Bau Saat Sidak Berasal dari Pembersihan IPAL
Dukung Digitalisasi Pajak, Bupati Yusran Akbar Bersama Kepala Daerah dari Berbagai Provinsi Teken Kerja Sama Replikasi SISGITA
Liga PAN Mobile Legend Brother Afdhal 2026 Resmi Digelar, 62 Tim Berebut Total Hadiah Rp15 Juta
Sentuhan Hj Hania di Sendang Mulyasari: Rumah Dilan, Solusi Olahan Sampah dan Pusat Keterampilan Warga
Bupati Konawe Tantang PKK, Rumah Dilan Bersahaja Jadi Jawabannya
Bupati KonaweYusran Akbar: Pertumbuhan 14,94% Bukti Nyata Keberhasilan Ekonomi Daerah
Delapan Bulan Beruntun! Konawe Jawara Inflasi Terendah Se-Sultra
Bupati Konawe Apresiasi Gotong Royong di Puncak Kemah Bakti dan Festival Bahari
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 11:42 WITA

SPPG Wonggeduku Bantah Isu Tikus, Sebut Bau Saat Sidak Berasal dari Pembersihan IPAL

Senin, 21 September 2026 - 14:06 WITA

Dukung Digitalisasi Pajak, Bupati Yusran Akbar Bersama Kepala Daerah dari Berbagai Provinsi Teken Kerja Sama Replikasi SISGITA

Sabtu, 19 September 2026 - 21:44 WITA

Liga PAN Mobile Legend Brother Afdhal 2026 Resmi Digelar, 62 Tim Berebut Total Hadiah Rp15 Juta

Kamis, 17 September 2026 - 16:30 WITA

Sentuhan Hj Hania di Sendang Mulyasari: Rumah Dilan, Solusi Olahan Sampah dan Pusat Keterampilan Warga

Senin, 7 September 2026 - 21:25 WITA

Bupati KonaweYusran Akbar: Pertumbuhan 14,94% Bukti Nyata Keberhasilan Ekonomi Daerah

Berita Terbaru