Di Balik Jas Birokrat, Yusran Akbar dan Filosofi Kayu Sang “Tukang” yang Tak Pernah Lupa Akar

- Penulis

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:20 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bupati Konawe, Yusran Akbar, ST., saat mengoperasikan mesin serut kayu (planer) di waktu luangnya. Tangan yang biasa menandatangani kebijakan ini akrab dengan serbuk gergaji dan alat pertukangan.

Bupati Konawe, Yusran Akbar, ST., saat mengoperasikan mesin serut kayu (planer) di waktu luangnya. Tangan yang biasa menandatangani kebijakan ini akrab dengan serbuk gergaji dan alat pertukangan.

Spirit “Kerja Cepat Bantu Rakyat” yang ia usung pun lahir dari pemahaman mendalam tentang serat kayu dan kehidupan. Di tengah hiruk pikuk politik, ia selalu kembali ke bengkel kayunya untuk menemukan ketenangan dan mengingat akar sejarahnya.

Konawe, Persada Kita – Di ruang kerjanya, ia mungkin tampak sebagai seorang pemimpin yang sibuk mengurus pemerintahan, tata kota dan kesejahteraan rakyat. Namun, jika Anda menelusuri sudut-sudut rumahnya atau melihat aktivitasnya di waktu luang, pemandangan itu akan berubah drastis. Bupati Konawe, Yusran Akbar, ST., tak segan memakai kaus oblong putih sederhana, memegang mesin serut kayu (planer), dan mengotori tangannya dengan serbuk gergaji.

Di balik kesibukannya sebagai orang nomor satu di Kabupaten Konawe, dan sebagai Ketua DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Sulawesi Tenggara, Yusran menyimpan identitas lain yang jarang tersorot publik: seorang tukang kayu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Yusran Akbar tampak teliti merapikan papan kayu. Baginya, dunia pertukangan mengajarkan kesabaran dan ketelitian—nilai yang ia bawa dalam memimpin Kabupaten Konawe.

Menghidupkan Spirit “Kerja Cepat Bantu Rakyat”

Bagi Yusran, dunia pertukangan bukan sekadar hobi pengisi waktu luang. Aktivitas ini adalah fondasi karakternya. Ia mengaku mulai menekuni dunia kayu sejak masa remaja di Kabupaten Konawe. Saat itu, kayu adalah teman setianya untuk bertahan hidup dan membantu keluarga.

“Awalnya memang karena kebutuhan. Tapi semakin ditekuni, saya menemukan banyak pelajaran hidup di dalamnya,” ujar Yusran saat ditemui di sela-sela kesibukannya merapikan papan kayu, belum lama ini.

Pria yang dikenal energik ini menjelaskan, filosofi kayu mengajarkannya tentang kesabaran, ketelitian, dan kekuatan. Kayu yang keras, menurutnya, tidak bisa dilawan dengan emosi, melainkan harus dipahami seratnya dan dibentuk dengan ketekunan.

Semangat inilah yang ia bawa ke dalam kepemimpinannya. Sebagai Ketua DPW PAN Sultra, Yusran mengusung spirit “Kerja Cepat Bantu Rakyat”. Filosofi kayu mengajarkan bahwa hasil yang berkualitas tidak pernah instan. Namun, di sisi lain, seorang tukang kayu yang profesional tahu kapan harus bergerak cepat agar material tidak rusak.

Baca Juga:  TMMD Ke-125 di Konawe: Sinergi TNI, Pemda, dan Rakyat Membangun Negeri dari Desa

“Kerja Cepat Bantu Rakyat itu bukan berarti tergesa-gesa tanpa arah. Seperti memotong dan menyerut kayu, kita harus cepat, tepat, dan presisi. Jika lambat, kayu bisa lapuk. Jika salah ukur, hasilnya tidak berguna. Dalam pemerintahan, kecepatan merespons kebutuhan masyarakat adalah kunci,” tegasnya.

Sosok yang merakyat: Yusran Akbar tak segan memakai kaus oblong sederhana dan mengotori tangannya dengan serbuk gergaji. Dedikasi ini menunjukkan pemimpin yang utuh dan tak melupakan akar.

Kembali ke Akar di Tengah Hiruk Pikuk Politik

Saat ini, Yusran Akbar adalah tokoh sentral di PAN Sultra. Nama besarnya sebagai Bupati membuat jadwal hariannya padat oleh rapat, kunjungan kerja, dan agenda partai. Namun, ia mengaku memiliki mekanisme pertahanan diri agar tidak “hilang” dari jati dirinya: ia kembali ke bengkel kayunya.

“Di tengah kebisingan mesin serut itu, saya menemukan ketenangan. Di situ saya ingat dari mana saya berasal,” ungkapnya.

Ia bercerita, banyak keputusan besar yang ia ambil justru matang saat ia sedang mengerjakan kayu. Ada nilai spiritual dan meditatif ketika ia meratakan permukaan papan yang kasar menjadi halus. Ia melihatnya sebagai metafora membangun daerah.

“Seperti kayu, masyarakat kita juga butuh ‘diserut’ dengan kebijakan yang tepat agar permukaannya rata, tidak ada yang menonjol dan saling bergesekan. Hasilnya, sebuah bangunan yang kokoh, yaitu Konawe yang maju dan sejahtera,” paparnya.

Sosok yang Merakyat

Bagi warga yang pernah melihatnya bekerja, Yusran bukanlah sosok yang menjaga jarak. Keringat yang bercucuran dan serbuk kayu yang menempel di wajahnya justru membuatnya terlihat sebagai manusia biasa yang merakyat.

Dedikasi Yusran Akbar menunjukkan bahwa seorang pemimpin tidak harus selalu terlihat formal dan eksklusif. Ia bisa hadir sebagai pribadi yang utuh—seorang birokrat yang cerdas, politikus yang tangguh, sekaligus seorang tukang yang piawai membaca serat kehidupan.

Dari kayu, Yusran Akbar belajar tentang fondasi. Dan dari fondasi itulah, ia bertekad membangun Konawe dan Sulawesi Tenggara, tanpa pernah melupakan akar sejarahnya di masa remaja. (JM)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita ini 88 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:20 WITA

Di Balik Jas Birokrat, Yusran Akbar dan Filosofi Kayu Sang “Tukang” yang Tak Pernah Lupa Akar

Berita Terbaru