“Jangan hanya rapat-rapat di ruangan!” tegas Bupati Konawe Yusran Akbar saat membuka sosialisasi GENTING 2026. Wakil Bupati Samsul Ibrahim menambahkan, validasi data dua minggu dan kunjungan door-to-door jadi kunci turunkan stunting di Konawe.
Konawe, PERSADA KITA.ID – “Jangan hanya rapat-rapat di ruangan! Kerja nyata di lapangan, baru angka stunting bisa turun.” Kalimat tegas itu disampaikan Bupati Konawe, H. Yusran Akbar, ST, saat membuka sosialisasi program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) tahun 2026 di Aula Kantor BKPSDM Kabupaten Konawe, Rabu (1/7/2026).
Acara yang juga dihadiri oleh perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Tenggara yang diwakili Ketua Tim Kerja Dinas Pengelolaan Kependudukan, jajaran Forkopimda, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Konawe, Hj Hania SPd MPd Gr, kepala perangkat daerah, pimpinan instansi vertikal, BUMD, perbankan, perguruan tinggi, para camat, kepala puskesmas, serta koordinator Balai KB se-Kabupaten Konawe.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Didampingi Wakil Bupati H. Samsul Ibrahim, SE, M.Si, Bupati Yusran menyatakan bahwa penanganan stunting adalah perintah langsung dari Presiden yang harus direspons serius oleh seluruh kepala daerah. Namun, ia menyoroti kebiasaan yang kerap terjadi: sosialisasi berulang tanpa aksi nyata.
“Program kerja nyata di lapangan. Kalau kita mau rapat-rapat terus, sosialisasi terus di ruangan, bakal tidak ada harapan. Tidak ada progres yang kelihatan,” tegas Bupati Yusran di hadapan ratusan peserta yang memenuhi ruangan.

Ia pun memberikan perbandingan keras: anggaran miliaran rupiah kerap habis untuk rapat dan perjalanan dinas, sementara pembelian susu dan telur untuk anak-anak berisiko stunting justru terabaikan. “Bayangkan, 10 miliar anggaran, 8 miliar habis rapat, sisanya perjalanan, berapa yang tersisa untuk beli telur?” kritiknya.
Tak hanya soal anggaran, Bupati Yusran juga mengingatkan pentingnya deteksi dini ke hulu permasalahan. Menurutnya, pernikahan dini menjadi salah satu akar masalah yang kerap luput dari perhatian.
“Akar permasalahannya harus tahu. Kita urus stunting, kok orangnya menikah dini bagaimana ceritanya?” ujarnya mempertanyakan.

Ia meminta para camat, kepala desa, dan lurah untuk memperkuat basis data di tingkat bawah. “Data basisnya harus kuat. Bukan mencari jarum dalam jerami. Yang penting mau kerja,” pesannya.
Bupati juga mendorong pemanfaatan sumber daya lokal Konawe yang melimpah, seperti buah-buahan dan madu, sebagai alternatif gizi sehat. “Lebih bagus kita kasih anak kita madu yang sesungguhnya dari lebah. Madu mempunyai DHA yang tinggi,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Bupati H. Samsul Ibrahim, SE, M.Si, membuka sambutannya dengan kabar membanggakan. Kabupaten Konawe berhasil melompat dari peringkat kelima menjadi peringkat kedua penanganan stunting se-Sulawesi Tenggara dengan data 100 persen terverifikasi.
“Ketika kita memperoleh posisi nomor 2 stunting di Sultra, salah satunya karena validasi datanya 100 persen,” ungkapnya.

Namun, ia cepat mengingatkan bahwa prestasi ini bukan akhir perjuangan. Target ke depan adalah menekan angka stunting mendekati nol. Dan itu, menurutnya, hanya bisa dicapai melalui pendekatan terpadu lintas sektor.
“Stunting ini tidak bisa hanya ditangani oleh BKKBN atau Dinas Kesehatan. Ada ketahanan pangan, sosial, PKK, Babinsa, Bhabinkamtibmas. Ini harus satu padu di tingkat bawah supaya gerakan ini serentak,” tegasnya.

Salah satu instruksi paling krusial dari Wakil Bupati adalah tenggat validasi data Keluarga Risiko Stunting (KRS) dilaksanakan lebih akurat. Ia meminta camat, kepala desa, bidan desa, dan penyuluh KB untuk mengecek ulang data secara menyeluruh.
“Mulai hari ini saya meminta kita semua serentak memvalidasi data untuk tuntas dalam 2 minggu ke depan. Nama, alamat, kondisi rumah, riwayat stunting harus akurat. Data yang salah bisa menyebabkan bantuan kita salah sasaran,” jelasnya tegas.

Wakil Bupati memaparkan target ambisius program GENTING, dimana setiap ASN mendampingi minimal 1 Keluarga Risiko Stunting (KRS). Dan setiap dunia usaha/perusahaan mendampingi minimal 5 KRS
Namun, ia mengingatkan bahwa menjadi orang tua asuh bukan sekadar seremonial. Komitmen nyata harus diwujudkan dengan kunjungan minimal satu kali sebulan untuk memantau asupan gizi, sanitasi, dan stimulasi anak.
“Gerakan orang tua asuh ini tidak mudah. Harus terealisasi,” ujarnya dengan nada tegas namun penuh makna.
Ia menambahkan bahwa bantuan berupa uang atau barang boleh diberikan, tetapi kewajiban utama adalah pendampingan dan kunjungan rutin. “Jangan sampai program Dinkes, Puskesmas, sosial, dan ketahanan pangan jalan sendiri-sendiri. Harus terkoordinasi,” pintanya.
Di tengah semangat kolaborasi, Wakil Bupati menyampaikan fakta mengejutkan yang membuat suasana ruangan hening sejenak. Berdasarkan data Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Konawe, angka kematian ibu dan anak di Kabupaten Konawe merupakan yang tertinggi di Sulawesi Tenggara.
“Ini tidak bisa kita banggakan. Harus door-to-door! Bidan dan aparat harus turun. Jangan pernah ada ibu hamil atau habis melahirkan, kita tunggu dia datang ke Puskesmas. Ketika dia tidak datang, kita yang harus turun,” tegasnya dengan nada prihatin.
Ia mengkritisi kebiasaan sebagian tenaga kesehatan yang hanya menunggu pasien datang, padahal kondisi geografis dan keterbatasan akses menjadi kendala utama masyarakat di pelosok.
Tak berhenti di situ, Wakil Bupati juga menyoroti fenomena yang dinilainya aneh: ada bidan yang memperoleh Surat Tanda Registrasi (STR) melalui kuliah online tanpa pengalaman praktik memadai.
“Kalau itu terjadi, berarti Anda juga kasih melahirkan orang secara virtual? Tidak sentuh, hanya lihat layar?” kritiknya tajam.
Ia menekankan bahwa persalinan seharusnya dilakukan di Puskesmas untuk mengantisipasi risiko tinggi, seperti tekanan darah tidak stabil yang memerlukan rujukan cepat ke rumah sakit kabupaten. “Jangan sampai masyarakat menganggap bidan desa bisa menangani segala hal. Bidan itu ujung tombak, tapi kalau ada tanda bahaya, harus rujuk ke Puskesmas,” ujarnya.
Selain itu, Wakil Bupati juga meminta Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Capil) untuk meningkatkan akurasi data kependudukan melalui pendataan door-to-door di tingkat desa dan dusun.
“Capil tolong betul-betul mendata dari desa, door-to-door. Supaya akurasi jumlah penduduk kita semakin baik dan benar. Saya tidak yakin angka pertumbuhan penduduk hanya sekian persen. Kadang kita ke desa, tidak tahu mana anak pertama, mana anak keempat,” ungkapnya diiringi gelak tawa peserta.
Kabupaten Konawe saat ini terus menunjukkan tren penurunan angka stunting yang signifikan. Capaian peringkat kedua se-Sulawesi Tenggara menjadi bukti nyata bahwa kerja keras seluruh pemangku kepentingan mulai membuahkan hasil.
Bupati dan Wakil Bupati Konawe berharap program GENTING dapat memperkuat sinergi lintas sektor dalam mewujudkan generasi Kabupaten Konawe yang sehat, cerdas, dan berkualitas. Mereka mengajak semua pihak, mulai dari para camat, puskesmas, kepala desa, dunia usaha, akademisi, dan seluruh masyarakat untuk bahu-membahu memastikan angka stunting terus menurun signifikan. JM
















