“Ini adalah jantung emosional dari film kita. Di balik semua tawa dan ketegangan horor, ada cerita manusia yang sangat manusiawi. Karina dan Rasya membawakan adegan ini dengan intensitas yang luar biasa.
Konawe, PERSADA KITA.ID – Suasana haru dan tegang menyelimuti dari halaman hingga ruang kelas SD di Kelurahan Andabia, Kecamatan Anggaberi, Senin (9/2/2026). Di tengah setting sekolah yang ramai, Karina Icha, sang bintang film yang belakangan ini tampil di sejumlah film horor nasional, menghayati peran sebagai ibu dari karakter Bio (Rasya Anton Timbang) dalam sebuah adegan konflik keluarga yang penuh beban emosional. Syuting hari kelima film horor komedi garapan Irham Acho Bachtiar ini bergeser dari suasana jenaka ke dalam dimensi drama yang dalam dan menyentuh.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Adegan ini menjadi titik balik penting dalam alur cerita, yang mengungkap latar belakang keluarga Bio dan menyentuh akar konflik yang melatari kisah horor komedi ini. Sutradara Irham Acho Bachtiar dengan cermat mengarahkan kedua aktor untuk mengeksplorasi dinamika hubungan ibu dan anak yang penuh misteri yang penuh luka masa lalu, sekaligus harapan yang tersisa.

“Ini adalah jantung emosional dari film kita. Di balik semua tawa dan ketegangan horor, ada cerita manusia yang sangat manusiawi. Karina dan Rasya membawakan adegan ini dengan intensitas yang luar biasa. Mereka berhasil menciptakan momen yang jujur dan memilukan,” ujar Acho, usai mengambil beberapa kali take untuk menyempurnakan adegan tersebut.

Karina Icha, yang dikenal dengan aktingnya yang mendalam, menyatakan kekagumannya pada tim produksi dan cerita yang diangkat. “Sangat menarik bisa terlibat dalam film yang tidak hanya mengandalkan jumpscare atau lelucon, tetapi juga punya pesan dan konflik keluarga yang kuat. Berakting dengan Rasya yang penuh semangat dan talenta muda lokal di sini memberi energi berbeda,” tuturnya.
Menariknya, di tengah tensi adegan yang tinggi, hadir talenta muda lokal Konawe, Muhammad Arga Lasambira (sebagai Perry), yang diberi peran pendamping. Arga berhasil memberikan sentuhan komedi segar yang tepat di sela-sela adegan berat, menunjukkan bagaimana film ini dengan piawai mencampur genre. “Peran Arga ini seperti penyegar. Di saat penonton mungkin sudah menahan napas atau terhanyut dalam emosi, kehadiran karakter yang dibawanya akan mengembalikan nuansa ringan yang khas film ini,” jelas asisten sutradara, Edwin Asdar Lasahari.

Lokasi sekolah di Andabia dipilih karena arsitektur dan atmosfernya yang sesuai dengan kilas balik cerita. Proses syuting berlangsung lancar dengan dukungan penuh warga sekitar, yang antusias menyaksikan proses kreatif film besar yang mengambil lokasi di kampung mereka.
Shooting hari kelima ini semakin mengukuhkan bahwa film kolaborasi Sultra Cinema Investama dan Rumah Semut Film ini tidak hanya sekadar komedi horor biasa, tetapi sebuah karya yang berani menyelami psikologi keluarga dan trauma, dengan balutan kultur lokal Konawe yang kental. JM
















